Agama adalah nasehat

Agustus 6, 2008

Dauroh Umum: Hiasan Para Penuntut Ilmu (Tuban, 10 Agustus 2008)

Diarsipkan di bawah: Info kajian — akmalulk @ 9:18 am
Tags: , , , , , , , , , , ,

Kami mengundang saudaraku sekalian untuk menghadiri Kajian Islamiah di kota Tuban, yang insya Allah diselenggarakan pada:

Hari Ahad, 10 Agustus 2008
Jam 08.00 – selesai

Tempat:
Masjid Baiturrahman Gedong Ombo, Tuban
(Selatan PDS/Pasar kambing)

Materi:
Hilyah Tholibil Ilmi
(Hiasan para pencari Ilmu)
Syaikh Dr. Bakr Abu Zaid

Pemateri:
Ustadz Abdullah Taslim, Lc.
(Mahasiswa S2 Jami’ah Islamiyah Madinah KSA)

TERBUKA UNTUK UMUM (PUTRA & PUTRI)

Informasi:
Abu Luthfi Samsul Huda (0356) 333471, 7022225, 085648555505, 085230305550
Ali 08123410640
Abun 085235599474

Download file pendaftaran MEDIU

Download

  1. Panduan Mengisi Formulir Online [Download]
  2. Fomulir Beasiswa [Download]
  3. Panduan Mengisi Formulir Beasiswa [Download]
  4. Surat Keterangan Penghasilan [Download]
  5. Panduan Mengisi Surat Keterangan Penghasilan [Download]
  6. Panduan Mendaftar Digital Library [Download]
Sumber:

Dauroh Umum dan Bedah Buku di Semarang (10 Agustus 2008)

Diarsipkan di bawah: Info kajian — akmalulk @ 9:10 am
Tags: , , , , , , , , , , ,

Bedah Buku Al Islam, Kemudahan dan Kesempurnaannya
Pemateri:
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Hari/Tanggal:
Ahad/10 Agustus 2008

Waktu:
09.00-selesai WIB

Tempat:
Masjid Baiturrohman, Simpang Lima, Semarang

Peserta:
Putra & Putri

Pemesanan buku: Nur Agency 024-3520394 / (flexy) 024-70763388

Ceramah Umum

Pemateri:
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Hari/Tanggal:
Ahad/10 Agustus 2008

Waktu:
Pkl 18.15-selesai

Tempat:
Masjid Nurus Sunnah, Jl. Bulusan Utara RT. 05/3 Bulusan Tembalang Semarang

Peserta:
Putra & Putri

Contact Person:
Djajeng Imam S 024-70707313 (Telkom)
Abu Abdirrohman 024-7046958 (Madrasah Imam Ahmad bin Hambal)
Arifin 081931923925 (Nurus Sunnah)

Penyelenggara:

  • Rohis Telkom Divre IV Jateng-DIY
  • Nurus Sunnah
  • Madrasah Imam Ahmad bin Hambal
  • Nur Agency

Agustus 5, 2008

Pendaftaran MEDIU diperpanjang dan Dibuka Untuk Muslimah

Kabar gembira bagi ikhwah muslim sekalian, pendaftaran mahasiswa baru MEDIU intake September 2008 yang awalnya berakhir tanggal 3 Agustus 2008 diperpanjang hingga 30 Agustus 2008. Masih terbuka kesempatan bagi para penuntut ilmu untuk menjadi bagian dari kampus Al Madinah International University, yang sekarang membuka program S1 dengan waktu studi selama 4 tahun.

Mahasiswa MEDIU berkesempatan untuk meraih beasiswa yang meliputi:

  • Bebas biaya pendidikan
  • Perangkat materi perkuliahan (CD, modul, dll)
  • Uang saku USD.200/semester*
  • Fasilitas laptop**

* Khusus bagi mahasiswa yang kurang mampu
** Statusnya dipinjamkan dan dapat menjadi hak milik setelah menyelesaikan studi (bagi yang memenuhi syarat)

Mahasiswa MEDIU juga akan mendapatkan fasilitas menarik sebagai berikut:

  • Koneksi internet di lab MEDIU setiap hari (untuk keperluan belajar agama)
  • Perpustakaan islami digital
  • Account e-mail
  • Pelatihan dan konsultasi IT (Teknologi Informasi)
  • Sharepoint video kajian masyaikh
  • Dll

Untuk periode ini MEDIU LC Yogyakarta mulai menerima peserta muslimah. MEDIU berharap kemudahan belajar ilmu syar’i di universitas ini juga dapat dinikmati oleh muslimah di Indonesia.

Maka, ikhwah wa akhowat fillah, jangan sampai kesempatan ini berlalu bagaikan angin sepoi di sore hari. Untuk keterangan cara pendaftaran silakan klik di sini.

Ribuan kitab ulama untuk mahasiswa MEDIU

Maktabah raqamiya adalah fasilitas perpusatakaan online yang diberikan kepada mahasiswa MEDIU (Al-Madinah International University). Perpusatakaan berbahasa arab ini memuat banyak kitab ulama kaum muslimin yang tidak terhitung jumlahnya. Kategori koleksi kitab ulama meliputi: Aqidah, Hadits, Bahasa arab, Fiqh, Adab, Tsaqofah islamiyah, Daulah islamiyah, Tarbiyah, dan lain-lain.

Karena banyaknya kitab yang dimiliki maka situs ini salah satunya dilengkapi dengan fasilitas pencarian berdasarkan nama kitab dan nama pengarang. Selain itu, Fasilitas Maktabah Raqamiya ini sangat mendukung kegiatan belajar-mengajar di MEDIU. diharapkan adanya fasilitas maktabah ini dapat meningkatkan kemampuan dan keilmuan mahasiswa MEDIU.

Untuk dapat mendapatkan koleksi kitab ulama maka anda harus mengisi اسم المستخدم (username) dan كلمة المرور (password), atau dengan kata lain, yang bisa mengakses maktabah ini adalah mahasiswa MEDIU dan semua orang diizinkan mengaksesnya.

Semoga kehadiran situs ini bermanfaat bagi islam dan kaum muslimin. Kita doakan.

E-consultation di MEDIU

Al Madinah International University merupakan terobosan baru dalam belajar Islam. Al Madinah International University memanfaatkan internet dalam metode pembelajarannya, atau disebut dengan istilah e-learning. Salah satu kegiatan belajar e-learning di Al Madinah International University adalah e-consultation. E-consultation adalah sesi belajar melalui tele conference bersama pengajar-pengajar MEDIU di Malaysia untuk berkonsultasi mengenai materi pelajaran yang sedang dipelajari. Mahasiswa MEDIU dapat bertanya segala hal seputar kesulitan-kesulitan dalam memahami pelajaran atau tugas yang diberikan melalui ALIM

Setiap mahasiswa mengikuti e-consultation dengan bobot 1 jam per mata kuliah per minggu. E consultation tidak hanya dapat dilakukan dari kampus MEDIU, namun dapat juga diikuti dari warnet, rumah atau tempat-tempat yang terdapat koneksi internet. Mahasiswa yang ingin mengikuti e-consultation dari luar kampus MEDIU dapat menghubungi staf IT MEDIU Yogyakarta melalui Yahoo Messenger untuk meminta di koneksikan dengan e-consultation.

Untuk menyelenggarakan e-consultation, MEDIU memanfaatkan fasilitas dari dimdim.com. Dimdim.com adalah penyedia layanan web meeting, atau pertemuan online yang dilengkapi fitur sharing desktop, chat, show slide, dan online board. Dengan menggunakan dimdim.com juga dapat melakukan video confrence dengan melakukan sharing web camera. Dengan menggunakan online board, pengajar dapat memberikan ilustrasi sebagaimana menulis di white board dengan menggunakan spidol. Pengajar juga dapat mengajar dengan slide show seperti presentasi di kelas konvensional, dengan memanfaatkan fitur show slide. Teleconference menggunakan dimdim juga lebih teratur karena dimdim sudah dilengkapi dengan sistem manajemen confrence yang baik.

Dengan adanya e-consultation, mahasiswa MEDIU dapat belajar secara terbimbing yang mampu membantu memecahkan masalah-masalah dalam memahami pelajaran dan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang dibebakan kepada mereka. Sehingga mahasiswa MEDIU pun cukup antusias untuk mengikuti tele conference.

Menarik bukan ber-teleconference di MEDIU?

Ayo bergabung di MEDIU

Link muslim untuk semua

Weblinks

LINK ILMIAH (BAHASA ARAB)

LINK INDONESIA (BAHASA INDONESIA)

LINK ILMIAH (BAHASA INGGRIS)

MUSLIMAH (INDONESIA)

RADIO ONLINE

INFORMASI PENGAJIAN

SOAL JAWAB ISLAM

LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

LINK PARA ULAMA

WEBLOG ILMIAH

Dauroh Ushulus Sunnah (Yogyakarta, 12 - 14 Agustus 2008)

Diarsipkan di bawah: Info kajian — akmalulk @ 9:13 am
Tags: , , , , , , , , , ,

Hari/Tanggal:
Selasa - Kamis/12 - 14 Agustus 2008

Pemateri:
Ustadz Abdullah Taslim, Lc. (Mahasiswa S2 Jami’ah Islamiyah Madinah KSA)

Materi:
Kitab Ushulus Sunnah, karya Imam Ahmad bin Hambal

Waktu:
08.00-11.30 WIB dan 15.30 - 17.30 WIB

Tempat:
Masjid Pondok Jamilurrahman As Salafy, Wirokerten Bantul, Yogyakarta

GRATIS

Informasi:

  • Kajian ini dibuka untuk umum untuk putra dan putri
  • Fotokopi kitab dapat dibeli pada panitia di tempat kajian
  • Peserta dari luar kota disediakan tempat menginap di pondok pesantren Jamilurrahman
  • Peta tempat kajian dapat dilihat di sini.
  • Kontak informasi: 081328802886 (Abu Yahya)

Dauroh ini diselenggarakan oleh:
Halaqoh Keluarga Salafiyyin Yogyakarta

Peta lokasi kajian

Juni 25, 2008

Haruskah Menuntut ilmu Secara Ta’shili

Diarsipkan di bawah: Adab, Ilmu — akmalulk @ 9:14 am
Tags: , , , , , , , , , , ,

Menuntut ilmu syar’i merupakan amal yang sangat mulia, bahkan seorang yang pergi menuntut ilmu seperti halnya orang yang pergi berjihad sampai ia kembali. Namun perbuatan yang baik ini jika tidak diiringi dengan metode belajar yang benar justru akan menjadi tidak teratur dan semrawut. Maka dari itu sangat penting bagi setiap penuntut ilmu untuk memperhatikan bagaimanakah cara belajarnya.

Ilmu Didapat Secara Bertahap

Seseorang yang tidak sabar ingin menelaah seluruh judul buku/kitab kerapkali berbuntut pada kebosanan dan dan akhirnya malah putus. Semangatnya begitu membara di awal, tetapi setelah itu padam tanpa bekas. Jadi sebenarnya apa masalahnya? Masalahnya adalah metode pembelajaran yang tidak berjenjang dan tidak memprioritaskan penguatan kaidah dasar (ta’shili), yaitu bertahap dimulai dari tahap awal kemudian meningkat ke jenjang yang lebih tinggi dan seterusnya. Dan adalah seorang yang cerdas ia mengambil ilmu sedikit demi sedikit sesuai dengan kadar kemampuannya, dengan semangat juang yang tinggi. Karena ilmu itu seperti tangga, untuk bisa mencapai bagian puncak dari tangga maka ia harus memanjat dari bawah terlebih dahulu, jika ia mamaksakan untuk langsung menuju puncak, maka ia tidak akan mampu atau akibatnya ia akan celaka.

Ketahuilah, jika engkau tergesa-gesa ingin memasukkan seluruh pelajaranmu, niscaya engkau justru akan kehilangan seluruhnya, karena ilmu didapat seiring dengan berjalannya siang dan malam, seteguk demi seteguk dengan penuh kesabaran, bukan sekali dua kali duduk atau sekali dua kali baca. Ingatlah firman Allah, “Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Hud: 49)

Mulailah dari yang Paling Penting

Dalam Ilmu dien, maka seseorang harus menguasai dasar yang kokoh sebagai bekal baginya untuk mendalami Ilmu syariat. Barangsiapa tidak memulai dari hal yang mendasar/pokok, maka ia tidak akan mendapatkan cabangnya. Hal terpenting yang harus engkau pelajari saat ini adalah ilmu tauhid, karena tauhidlah sumber kebahagiaan dunia dan akherat. Selain itu, kenalilah lawan dari tauhid yaitu syirik dengan perinciannya. Sebab jika engkau tidak kenal dengan syirik maka secara tidak sadar engkaupun jatuh di dalamnya.

Bergurulah!!

Adakalanya seseorang belajar ilmu syar’i hanya dari buku yang ia baca semata. Metode ini memiliki beberapa sisi negatif, di antaranya yaitu butuh waktu yang lama, ilmunya lemah, dan kadang kita jumpai seseorang yang seperti ini banyak terjatuh dalam kesalahan karena lemahnya pemahaman atau karena buku yang dibacanya sesat dan menyesatkan. Dengan adanya guru, maka dialah yang akan membimbingmu dan membetulkanmu jika engkau salah dan waktu yang engkau butuhkan untuk belajar menjadi lebih singkat.

Hendaklah seseorang melihat kepada siapa ia mengambil ilmu, carilah guru yang berakidah dan bermanhaj sebagaimana para sahabat, memegang teguh sunnah Rosululloh shollAllahu ‘alaihi wa sallam, jauh dari hawa nafsu, lepas dari kebid’ahan dan memiliki cara mengajar yang baik.

(Disarikan dari Kitabul-Ilmi Syaikh Utsaimin dan dari kajian-kajian ilmiah)

***

Penulis: Abu Sa’id Satria Buana
Artikel www.muslim.or.id

Adab-Adab Penuntut Ilmu

Diarsipkan di bawah: Adab, Ilmu — akmalulk @ 9:12 am
Tags: , , , , , , , , , , ,

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah, amma ba’du. Para pembaca yang budiman, menuntut ilmu agama adalah sebuah tugas yang sangat mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Allah akan pahamkan dia dalam hal agamanya.” (HR. Bukhari) Oleh sebab itu sudah semestinya kita berupaya sebaik-baiknya dalam menimba ilmu yang mulia ini. Nah, untuk bisa meraih apa yang kita idam-idamkan ini tentunya ada adab-adab yang harus diperhatikan agar ilmu yang kita peroleh membuahkan barakah, menebarkan rahmah dan bukannya malah menebarkan fitnah atau justru menyulut api hizbiyah. Wallaahul musta’aan.

ADAB PERTAMA

Mengikhlaskan Niat untuk Allah ‘azza wa jalla

Yaitu dengan menujukan aktivitas menuntut ilmu yang dilakukannya untuk mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat, sebab Allah telah mendorong dan memotivasi untuk itu. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Pujian terhadap para ulama di dalam al-Qur’an juga sudah sangat ma’ruf. Apabila Allah memuji atau memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu bernilai ibadah.

Oleh sebab itu maka kita harus mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu hanya untuk Allah, yaitu dengan meniatkan dalam menuntut ilmu dalam rangka mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla. Apabila dalam menuntut ilmu seseorang mengharapkan untuk memperoleh persaksian/gelar demi mencari kedudukan dunia atau jabatan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk mencari wajah Allah ‘azza wa jalla tetapi dia justru berniat untuk meraih bagian kehidupan dunia maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” yakni tidak bisa mencium aromanya, ini adalah ancaman yang sangat keras. Akan tetapi apabila seseorang yang menuntut ilmu memiliki niat memperoleh persaksian/ijazah/gelar sebagai sarana agar bisa memberikan manfaat kepada orang-orang dengan mengajarkan ilmu, pengajian dan sebagainya, maka niatnya bagus dan tidak bermasalah, karena ini adalah niat yang benar.

ADAB KEDUA

Bertujuan untuk Mengangkat Kebodohan Diri Sendiri dan Orang Lain

Dia berniat dalam menuntut ilmu demi mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain. Sebab pada asalnya manusia itu bodoh, dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Allah lah yang telah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan kemudian Allah ciptakan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati supaya kalian bersyukur.” (QS. An Nahl: 78). Demikian pula niatkanlah untuk mengangkat kebodohan dari umat, hal itu bisa dilakukan dengan pengajaran melalui berbagai macam sarana, supaya orang-orang bisa memetik manfaat dari ilmu yang kau miliki.

ADAB KETIGA

Bermaksud Membela Syariat

Yaitu dalam menuntut ilmu itu engkau berniat untuk membela syariat, sebab kitab-kitab yang ada tidak mungkin bisa membela syariat (dengan sendirinya). Tidak ada yang bisa membela syariat kecuali si pembawa syariat. Seandainya ada seorang ahlul bid’ah datang ke perpustakaan yang penuh berisi kitab-kitab syariat yang jumlahnya sulit untuk dihitung lantas dia berbicara melontarkan kebid’ahannya dan menyatakannya dengan lantang, saya kira tidak ada sebuah kitab pun yang bisa membantahnya. Akan tetapi apabila dia berbicara dengan kebid’ahannya di sisi orang yang berilmu demi menyatakannya maka si penuntut ilmu itu akan bisa membantahnya dan menolak perkataannya dengan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu saya katakan: Salah satu hal yang harus senantiasa dipelihara di dalam hati oleh penuntut ilmu adalah niat untuk membela syariat. Manusia kini sangat membutuhkan keberadaan para ulama, supaya mereka bisa membantah tipu daya para ahli bid’ah serta seluruh musuh Allah ‘azza wa jalla.

ADAB KEEMPAT

Berlapang Dada Dalam Masalah Khilaf

Hendaknya dia berlapang dada ketika menghadapi masalah-masalah khilaf yang bersumber dari hasil ijtihad. Sebab perselisihan yang ada di antara para ulama itu bisa jadi terjadi dalam perkara yang tidak boleh untuk berijtihad, maka kalau seperti ini maka perkaranya jelas. Yang demikian itu tidak ada seorang pun yang menyelisihinya diberikan uzur. Dan bisa juga perselisihan terjadi dalam permasalahan yang boleh berijtihad di dalamnya, maka yang seperti ini orang yang menyelisihi kebenaran diberikan uzur. Dan perkataan anda tidak bisa menjadi argumen untuk menjatuhkan orang yang berbeda pendapat dengan anda dalam masalah itu, seandainya kita berpendapat demikian niscaya kita pun akan katakan bahwa perkataannya adalah argumen yang bisa menjatuhkan anda.

Yang saya maksud di sini adalah perselisihan yang terjadi pada perkara-perkara yang diperbolehkan bagi akal untuk berijtihad di dalamnya dan manusia boleh berselisih tentangnya. Adapun orang yang menyelisihi jalan salaf seperti dalam permasalahan akidah maka dalam hal ini tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk menyelisihi salafush shalih, akan tetapi pada permasalahan lain yang termasuk medan pikiran, tidaklah pantas menjadikan khilaf semacam ini sebagai alasan untuk mencela orang lain atau menjadikannya sebagai penyebab permusuhan dan kebencian.

Maka menjadi kewajiban para penuntut ilmu untuk tetap memelihara persaudaraan meskipun mereka berselisih dalam sebagian permasalahan furu’iyyah (cabang), hendaknya yang satu mengajak saudaranya untuk berdiskusi dengan baik dengan didasari kehendak untuk mencari wajah Allah dan demi memperoleh ilmu, dengan cara inilah akan tercapai hubungan baik dan sikap keras dan kasar yang ada pada sebagian orang akan bisa lenyap, bahkan terkadang terjadi pertengkaran dan permusuhan di antara mereka. Keadaan seperti ini tentu saja membuat gembira musuh-musuh Islam, sedangkan perselisihan yang ada di antara umat ini merupakan penyebab bahaya yang sangat besar, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih yang akan menceraiberaikan dan membuat kekuatan kalian melemah. Dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfaal: 46)

ADAB KELIMA

Beramal Dengan Ilmu

Yaitu hendaknya penuntut ilmu mengamalkan ilmu yang dimilikinya, baik itu akidah, ibadah, akhlaq, adab, maupun muamalah. Sebab amal inilah buah ilmu dan hasil yang dipetik dari ilmu, seorang yang mengemban ilmu adalah ibarat orang yang membawa senjatanya, bisa jadi senjatanya itu dipakai untuk membela dirinya atau justru untuk membinasakannya. Oleh karenanya terdapat sebuah hadits yang sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau untuk menjatuhkanmu.”

ADAB KEENAM

Berdakwah di Jalan Allah

Yaitu dengan menjadi seorang yang menyeru kepada agama Allah ‘azza wa jalla, dia berdakwah pada setiap kesempatan, di masjid, di pertemuan-pertemuan, di pasar-pasar, serta dalam segala kesempatan. Perhatikanlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul tidaklah hanya duduk-duduk saja di rumahnya, akan tetapi beliau mendakwahi manusia dan bergerak ke sana kemari. Saya tidak menghendaki adanya seorang penuntut ilmu yang hanya menjadi penyalin tulisan yang ada di buku-buku, namun yang saya inginkan adalah mereka menjadi orang-orang yang berilmu dan sekaligus mengamalkannya.

ADAB KETUJUH

Bersikap Bijaksana (Hikmah)

Yaitu dengan menghiasi dirinya dengan kebijaksanaan, di mana Allah berfirman yang artinya, “Hikmah itu diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang diberi hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang sangat banyak.” (QS. al-Baqarah: 269). Yang dimaksud hikmah ialah seorang penuntut ilmu menjadi pembimbing orang lain dengan akhlaknya dan dengan dakwahnya mengajak orang mengikuti ajaran agama Allah ‘azza wa jalla, hendaknya dia berbicara dengan setiap orang sesuai dengan keadaannya. Apabila kita tempuh cara ini niscaya akan tercapai kebaikan yang banyak, sebagaimana yang difirmankan Tuhan kita ‘azza wa jalla yang artinya, “Dan barang siapa yang diberikan hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang amat banyak.” Seorang yang bijak (Hakiim) adalah yang dapat menempatkan segala sesuatu sesuai kedudukannya masing-masing. Maka sudah selayaknya, bahkan menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk bersikap hikmah di dalam dakwahnya.

Allah ta’ala menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah di dalam firman-Nya yang artinya, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl: 125). Dan Allah ta’ala telah menyebutkan tingkatan dakwah yang keempat dalam mendebat Ahli kitab dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu mendebat ahlu kitab kecuali dengan cara yang lebih baik kecuali kepada orang-orang zhalim diantara mereka.” (QS. al-’Ankabuut: 46). Maka hendaknya penuntut ilmu memilih cara dakwah yang lebih mudah diterima oleh pemahaman orang.

ADAB KEDELAPAN

Penuntut Ilmu Harus Bersabar Dalam Menuntut Ilmu

Yaitu hendaknya dia sabar dalam belajar, tidak terputus di tengah jalan dan merasa bosan, tetapi hendaknya di terus konsisten belajar sesuai kemampuannya dan bersabar dalam meraih ilmu, tidak cepat jemu karena apabila seseorang telah merasa jemu maka dia akan putus asa dan meninggalkan belajar. Akan tetapi apabila dia sanggup menahan diri untuk tetap belajar ilmu niscaya dia akan meraih pahala orang-orang yang sabar; ini dari satu sisi, dan dari sisi lain dia juga akan mendapatkan hasil yang baik.

ADAB KESEMBILAN

Menghormati Ulama dan Memosisikan Mereka Sesuai Kedudukannya

Sudah menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk menghormati para ulama dan memosisikan mereka sesuai kedudukannya, dan melapangkan dada-dada mereka dalam menghadapi perselisihan yang ada di antara para ulama dan selain mereka, dan hendaknya hal itu dihadapinya dengan penuh toleransi di dalam keyakinan mereka bagi orang yang telah berusaha menempuh jalan (kebenaran) tapi keliru, ini catatan yang penting sekali, sebab ada sebagian orang yang sengaja mencari-cari kesalahan orang lain dalam rangka melontarkan tuduhan yang tak pantas kepada mereka, dan demi menebarkan keraguan di hati orang-orang dengan cela yang telah mereka dengar, ini termasuk kesalahan yang terbesar. Apabila menggunjing orang awam saja termasuk dosa besar maka menggunjing orang berilmu lebih besar dan lebih berat dosanya, karena dengan menggunjing orang yang berilmu akan menimbulkan bahaya yang tidak hanya mengenai diri orang alim itu sendiri, akan tetapi mengenai dirinya dan juga ilmu syar’i yang dibawanya.

Sedangkan apabila orang-orang telah menjauh dari orang alim itu atau harga diri mereka telah jatuh di mata mereka maka ucapannya pun ikut gugur. Apabila dia menyampaikan kebenaran dan menunjukkan kepadanya maka akibat gunjingan orang ini terhadap orang alim itu akan menjadi penghalang orang-orang untuk bisa menerima ilmu syar’i yang disampaikannya, dan hal ini bahayanya sangat besar dan mengerikan. Saya katakan, hendaknya para pemuda memahami perselisihan-perselisihan yang ada di antara para ulama itu dengan anggapan mereka berniat baik dan disebabkan ijtihad mereka dan memberikan toleransi bagi mereka atas kekeliruan yang mereka lakukan, dan hal itu tidaklah menghalanginya untuk berdiskusi dengan mereka dalam masalah yang mereka yakini bahwa para ulama itu telah keliru, supaya mereka menjelaskan apakah kekeliruan itu bersumber dari mereka ataukah dari orang yang menganggap mereka salah ?! Karena terkadang tergambar dalam pikiran seseorang bahwa perkataan orang alim itu telah keliru, kemudian setelah diskusi ternyata tampak jelas baginya bahwa dia benar. Dan demikianlah sifat manusia, “Semua anak Adam pasti pernah salah dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang senantiasa bertaubat”. Adapun merasa senang dengan ketergelinciran seorang ulama dan justru menyebar-nyebarkannya di tengah-tengah manusia sehingga menimbulkan perpecah belahan maka hal ini bukanlah termasuk jalan Salaf.

ADAB KESEPULUH

Berpegang Teguh Dengan Al Kitab dan As Sunnah

Wajib bagi penuntut ilmu untuk memiliki semangat penuh guna meraih ilmu dan mempelajarinya dari pokok-pokoknya, yaitu perkara-perkara yang tidak akan tercapai kebahagiaan kecuali dengannya, perkara-perkara itu adalah :

1. Al-Qur’an Al-Karim

Oleh sebab itu wajib bagi penuntut ilmu untuk bersemangat dalam membacanya, menghafalkannya, memahaminya serta mengamalkannya karena al-Qur’an itulah tali Allah yang kuat, dan ia adalah landasan seluruh ilmu. Para salaf dahulu sangat bersemangat dalam mempelajarinya, dan diceritakan bahwasanya terjadi berbagai kejadian yang menakjubkan pada mereka yang menunjukkan begitu besar semangat mereka dalam menelaah al-Qur’an. Dan sebuah kenyataan yang patut disayangkan adalah adanya sebagian penuntut ilmu yang tidak mau menghafalkan al-Qur’an, bahkan sebagian di antara mereka tidak bisa membaca al-Qur’an dengan baik, ini merupakan kekeliruan yang besar dalam hal metode menuntut ilmu. Karena itulah saya senantiasa mengulang-ulangi bahwa seharusnya penuntut ilmu bersemangat dalam menghafalkan al-Qur’an, mengamalkannya serta mendakwahkannya, dan untuk bisa memahaminya dengan pemahaman yang selaras dengan pemahaman salafush shalih.

2. As Sunnah yang shahihah

Ia merupakan sumber kedua dari sumber syariat Islam, dialah penjelas al-Qur’an al Karim, maka menjadi kewajiban penuntut ilmu untuk menggabungkan antara keduanya dan bersemangat dalam mendalami keduanya. Penuntut ilmu sudah semestinya menghafalkan as-Sunnah, baik dengan cara menghafal nash-nash hadits atau dengan mempelajari sanad-sanad dan matan-matannya, membedakan yang shahih dengan yang lemah, menjaga as-Sunnah juga dengan membelanya serta membantah syubhat-syubhat yang dilontarkan Ahlu bid’ah guna menentang as-Sunnah.

ADAB KESEBELAS

Meneliti Kebenaran Berita yang Tersebar dan Bersikap Sabar

Salah satu adab terpenting yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu adalah tatsabbut (meneliti kebenaran berita), dia harus meneliti kebenaran berita-berita yang disampaikan kepadanya serta mengecek efek hukum yang muncul karena berita tersebut. Di sana ada perbedaan antara tsabaat dan tatsabbut, keduanya adalah dua hal yang berlainan walaupun memiliki lafazh yang mirip tapi maknanya berbeda. Ats tsabaat artinya bersabar, tabah dan tidak merasa bosan dan putus asa. Sehingga tidak semestinya dia mengambil sebagian pembahasan dari sebuah kitab atau suatu bagian dari cabang ilmu lantas ditinggalkannya begitu saja. Sebab tindakan semacam ini akan membahayakan bagi penuntut ilmu serta membuang-buang waktunya tanpa faedah. Dan cara seperti ini tidak akan membuahkan ilmu. Seandainya dia mendapatkan ilmu, maka yang diperolehnya adalah kumpulan permasalahan saja dan bukan pokok dan landasan pemahaman. Contoh orang yang hanya sibuk mengumpulkan permasalahan itu seperti perilaku orang yang sibuk mencari berita dari berbagai surat kabar dari satu koran ke koran yang lain. Karena pada hakikatnya perkara terpenting yang harus dilakukan adalah ta’shil (pemantapan pondasi, ilmu ushul) dan pengokohannya serta kesabaran untuk mempelajarinya.

Dengan perantara nama-nama-Mu yang terindah dan sifat-sifat-Mu yang tertinggi ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba. Begitu banyak nikmat telah hamba sia-siakan. Umur, kesempatan, waktu luang, kesehatan dan keamanan. Semuanya telah Engkau curahkan, namun aku selalu lalai dan tidak pandai mensyukuri pemberian-Mu. Ya Allah bimbinglah hamba-Mu ini, untuk meraih kebahagiaan pada hari di mana tidak ada lagi hari sesudahnya, ketika kematian telah disembelih di antara surga dan neraka. Ketika para penduduk surga semakin bergembira dan para penghuni neraka bertambah sedih dan merana. Ya Allah, limpahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ya Allah, kami mohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, terjaganya kehormatan dan kecukupan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyinaa Muhammad, walhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.

***

Adab-adab ini disadur dari Thiibul Kalim al-Muntaqa Min Kitaab al-’Ilm Li Ibni Utsaimin karya Abu Juwairiyah oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com.